Getaran keras dibarengi tiupan angin laksana topan tiba-tiba menderu di pelataran Keraton Mataram. “Wahai kalian orang-orang Raja mataram dan Kau Ksatria Panggilan, bersiaplah untuk mampus !” bentak satu suara berat memecah keheningan malam. Wiro yang saat itu masih terhenyak karena kepergian arwah Sakuntaladewi dan Ni gatri, tiba-tiba tersadar kala Kunti Ambiri menarik tubuhnya keras. “Tidak ada waktu untuk bersedih lagi ! keselamatan Raja Mataram dan para penghuni keraton kini terancam ! apa yang harus kita perbuat..?” Wiro tampak berpikir keras. “Kita harus membawa pergi Raja dan keluarganya keluar dari keraton terlebih dahulu, ada baiknya jika kau dan Ratu Randang membawa Raja dan keluarganya kembali ke Sumur Api melalui pintu belakang keraton..” ucap Sang Pendekar yang tiba-tiba terputus oleh ucapan Sri Maharaja Mataram Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala. “Aku dan keluarga sudah lelah harus hidup dan terus berlari di pengasingan aku sebagai Raja tidak ingin berlari lagi dan terus bersembunyi sementara rakyat dan orang-orangku harus hidup menderita..!” kakek Kumara Gandamayana yang berdiri di sebelah Sang Raja mengerutkan keningnya mendengar perkataan Sang Raja.
Download